Waspada, Pengedar Obat PCC Maut Incar Anak di Bawah Umur

kids-highlighting-text-ccss

Jakarta – Obat yang dikenal dengan nama PCC membuat puluhan orang dilarikan ke RS dan satu di antaranya tewas. Ternyata pengedar menyasar anak di bawah umur.

“Sasaran ini adalah anak-anak di bawah umur,” kata Deputi Pemberantasan BNN Arman Depari yang dilansir dari Detik.Com di Cawang, Jakarta Timur, Kamis (14/9/2017).

Soal motif pengedar mengedarkan obat PCC itu ke anak di bawah umur masih misterius. BNN dan kepolisian sedang menggali motif tersebut.

“Ini masih terus dikembangkan, mudah-mudahan nanti atas kerja sama semua pihak maka kita bisa mengungkap dari mana sumber barang ini, apa motivasinya, dan bagaimana modusnya sehingga yang menjadi sasaran ini adalah anak-anak di bawah umur ini,” kata Arman.

Diberitakan sebelumnya, 30 remaja di Kendari, dari pelajar tingkat SD, SMP, SMA, hingga pegawai, mengonsumsi obat terlarang yang diduga jenis narkoba. Akibatnya, 25 orang dilarikan ke rumah sakit dan 1 lainnya tewas. Arman menyatakan obat PCC bukan narkoba, tapi efeknya tetap berbahaya.

“Menurut literatur yang kami peroleh memang kandungan obat ini sementara ini bukan merupakan narkotik dan juga bukan yang sekarang ini tersebar di tengah masyarakat adalah jenis Flakka, bukan,” ujar Arman.
Ini Bahayanya
Dilansir dari Detik.com Kabar soal penyalahgunaan obat terlarang di Kendari membuat heboh. Salah seorang remaja, NH mengaku telah mengkonsumsi 3 butir obat tersebut dalam sekali teguk dan mencampurkannya dengan jenis Somadril, Tramadol, dan PCC (paracetamol, carisprodol, dan caffeine). Kejadian ini berakhir pada tewasnya satu anak.

Melalui saluran telepon, Kamis (14/9/2017), dr Hari Nugroho dari Institute Of Mental Health Addiction And Neurosience (IMAN) menjelaskan bahwa perbuatan mencampur-campur obat ilegal sudah cukup sering terjadi bagi orang-orang yang masih dalam tahap coba-coba.

Padahal, tanpa harus dicampurkan dengan obat jenis lain, obat PCC yang disalahgunakan bisa menimbulkan kejang-kejang, depresi, insomsia hingga perilaku agitasi yaitu perilaku yang membuat orang lebih sensitif dan sulit untuk dikendalikan dan bahkan kematian.
PCC merupakan obat keras yang tidak boleh dijual sembarangan atau harus seizin dokter. Namun obat ini dipasarkan dengan harga murah kepada siswa di Kendari, Sulawesi Tenggara.

“Tapi ternyata ini beredar dengan bebas, bahkan dijual kepada anak-anak sekolah dengan harga Rp 25.000 per 20 biji,” kata Deputi Bidang Pemberantasan BNN Irjen Arman Depari di gedung BNN, Jalan MT Haryono, Cawang, Jakarta Timur, Kamis (14/9/2017).

BNN memberi perhatian khusus terhadap kasus ini. Sejauh ini seorang diduga pengedar sudah ditangkap. Selain itu, jaringan peredaran obat PCC sedang ditelusuri.

“Ini masih terus dikembangkan, mudah-mudahan nanti atas kerja sama semua pihak, maka kita bisa mengungkap dari mana sumber barang ini, apa motivasinya, dan bagaimana modusnya sehingga yang menjadi sasaran ini adalah anak-anak di bawah umur,” ujarnya.

Kata Arman, PCC merupakan singkatan dari paracetamol, caffeine, dan carisoprodol. Obat ini biasanya digunakan sebagai penghilang rasa sakit dan obat sakit jantung.

Selain kejang-kejang, obat itu bisa membuat badan terasa sakit. Fungsi sebenarnya obat PCC adalah menghilangkan rasa sakit dan untuk obat sakit jantung.

“Nah, kalau dilihat kegunaannya, ini tentu bisa kita simpulkan kalau ini obat keras, obat yang tidak boleh bebas beredar,” ujar Arman.

Related Blogs